JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi menetapkan seorang tersangka dalam kasus
pembajakan film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I.
Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes M. Fadil Imran mengatakan, tersangka
tersebut adalah perempuan 31 tahun berinisial P.
Adapun P diketahui menyiarkan atau streaming film Warkop DKI ke aplikasi
Bigo Live. Film yang disiarkannya itu adalah film yang direkam dengan ponsel
ketika P menonton di bioskop.
"Pelaku ini merekam film secara langsung di bioskop ketika menyaksikan
film tersebut di bioskop Ambarukmo Plaza," kata Fadil di Mapolda Metro
Jaya, Selasa (27/9/2016).
Kepada
polisi, P mengatakan bahwa ia tak tahu aksinya ini melanggar hukum. P juga
mengaku ia hanya iseng mengunggah film itu ke dunia maya.
"Akan
kami dalami lagi apakah yang bersangkutan ada keuntungan ekonomi atau
keuntungan lainnya," kata Fadil.
P diamankan di kediamannya di Jakarta pada Senin (26/9/2016). Kendati
demikian, polisi tidak menahan P. Ia hanya diwajibkan melapor dan memenuhi
panggilan penyidik.
Kuasa hukum Falcon Picture, Lydia Wongso, mengucapkan terima kasih kepada jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Ia memperingatkan agar hal serupa tidak diulangi. Lydia mengatakan, Falcon Picture maupun mereka yang berkecimpung di dunia perfilman, tidak akan segan untuk melaporkan aksi semacam ini ke polisi.
"Yang lain sudah meminta maaf dan kita kejar. Karena ini dari film kita pertama kali (pembajakan) online. Proses hukum kita tidak bisa hindari meski sudah meminta maaf," kata Lydia.
Pelaku dijerat dengan Undang-undang Hak Cipta serta Pasal 48 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Ancaman hukumannya, 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 4 miliar.
Kuasa hukum Falcon Picture, Lydia Wongso, mengucapkan terima kasih kepada jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Ia memperingatkan agar hal serupa tidak diulangi. Lydia mengatakan, Falcon Picture maupun mereka yang berkecimpung di dunia perfilman, tidak akan segan untuk melaporkan aksi semacam ini ke polisi.
"Yang lain sudah meminta maaf dan kita kejar. Karena ini dari film kita pertama kali (pembajakan) online. Proses hukum kita tidak bisa hindari meski sudah meminta maaf," kata Lydia.
Pelaku dijerat dengan Undang-undang Hak Cipta serta Pasal 48 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Ancaman hukumannya, 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 4 miliar.
Tanggapan :
Mengenai kasus pembajakan film di atas, terlihat
bahwa masih banyak orang yang tidak mengetahui hukum dan terlebih menghargai si
pembuat film. Akibat dari pelanggaran hak cipta tersebut adalah merusak kreativitas
seseorang yang telah menciptakan. Pencipta merasa dirugikan baik secara moril
maupun materil karena hasil karyanya selalu dibajak. Padahal penegak hukum
sudah sering mengingatkan tentang UU ITE no. 11 tahun 2008 yang hukumannya
tidak main-main.
0 komentar:
Posting Komentar