Membentuk Budaya Tanggung Jawab Di Kantor

on Minggu, 29 Desember 2019

Pengertian tanggung jawab dalam Kamus Umum Bahasa Besar Indonesia adalah keadaan dimana wajib menanggung segala sesuatu, sehingga berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Adapun tanggung jawab secara definisi merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Tanggung jawab bersifat kodrati, yang artinya tanggung jawab itu sudah menjadi bagian kehidupan manusia bahwa setiap manusia dan yang pasti masing-masing orang akan memikul suatu tanggung jawabnya sendiri-sendiri.
Apabila seseorang tidak mau bertanggung jawab, maka tentu ada pihak lain yang memaksa untuk tindakan tanggung jawab tersebut. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannyaitu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Membentuk budaya tanggung jawab di kantor ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang merasa perlu melakukan pekerjaan dengan baik. Sebagian pegawai yang bekerja hanya untuk menunggu gaji di akhir bulan mungkin hanya mengeluarkan upaya seadanya. Bagi mereka, yang penting pekerjaan selesai sesuai tenggat waktu yang ditetapkan, tanpa memikirkan kualitas. Padahal, jika setiap karyawan di tempat kerja memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaannya, maka pimpinan bisa berharap tingkat produktivitas. Artinya, manajer harus mendorong agar pegawai bertanggung jawab penuh atas setiap tugas yang diberikan.
Berikut ini merupakan cara membentuk budaya tanggung jawab di tempat kerja :
·         Membiarkan karyawan menentukan langkah aksi
Manajer hanya perlu memberikan target dan standar pekerjaan. Sisanya, biar karyawan yang menentukan. Atasan tidak perlu memberi tahu bawahan tentang setiap langkah yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah. Biarlah staf Anda yang berpikir. Siapa tahu, mereka akan mengejutkan dengan ide baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jika pegawai diberikan kepercayaan untuk mengerjakan tugas dengan caranya sendiri, maka dia akan bertanggung jawab, bahkan ketika rencananya mengalami kegagalan.
·         Memberikan kesempatan pada karyawan untuk mengambil keputusan
Manajer bisa mendelegasikan sebagian tugas kepada staf dengan membiarkannya mengambil beberapa keputusan. Hal ini bukan berarti atasan memberi beban berlebih pada bawahan. Tapi, bos sedang melatih karyawan untuk bisa membuat pertimbangan, mengambil keputusan, dan akhirnya bertanggung jawab atas pekerjaannya. Jadi, untuk memerkuat budaya tanggung jawab, pimpinan di kantor bisa mendorong pegawai sampai tingkat terendah untuk bisa mengambil keputusan sendiri.
·         Mendorong rasa memiliki dan menjadi bagian dari perusahaan
Ketika diminta mengerjakan proyek tunggal, maka karyawan akan merasa mendapat kepercayaan dari atasan dan perusahaan. Dia akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek tersebut dengan baik, demi dirinya dan kebaikan perusahaan. Kemudian, pegawai akan merasa “memiliki” dan merasa menjadi bagian perusahaan. Dia juga akan lebih bertanggung jawab pada proyek-proyek selanjutnya.
·         Memberi penghargaan kepada mereka yang menunjukkan rasa tanggung jawab
Ketika karyawan mencoba memperbaiki diri dan lebih bertanggung jawab atas pekerjaan, maka manager dapat memberikan penghargaan padanya. Hal ini merupakan contoh baik untuk karyawan lain. Orang yang sudah berusaha untuk bertanggung jawab pada pekerjaan akan merasa diperhatikan, sedangkan pegawai yang cenderung acuh pada pekerjaan akan berusaha bekerja lebih baik.

Etika Berprofesi Dalam Bidang Keteknikan

Pengertian etika adalah  suatu norma atau aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku di masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk. Ada juga yang menyebutkan pengertian etika adalah suatu ilmu tentang kesusilaan dan perilaku manusia di dalam pergaulannya dengan sesama yang menyangkut prinsip dan aturan tentang tingkah laku yang benar. Dengan kata lain, etika adalah kewaijban dan tanggungjawab moral setiap orang dalam berperilaku di masyarakat. Secara etimologis, kata etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu “Ethikos” yang artinya timbul dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini etika memiliki sudut pandang normatif dimana objeknya adalah manusia dan perbuatannya.
Terdapat beberapa karakteristik etika yang membedakannya dengan norma lainnya. Adapun ciri-ciri etika adalah sebagai berikut:
  • Etika tetap berlaku meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan.
  • Etika sifatnya absolut atau mutlak.
  • Dalam etika terdapat cara pandang dari sisi batiniah manusia.
  • Etika sangat berkaitan dengan perbuatan atau perilaku manusia.
Pengertian profesi adalah suatu pekerjaan yang melaksanakan tugasnya memerlukan atau menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian yang diperoleh dari lembaga pendidikan khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggung jawabkan. Seseorang yang menekuni suatu profesi tertentu disebut professional, sedangkan professional sendiri mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengn profesinya.
Secara umum, pengertian etika profesi adalah suatu sikap etis yang dimiliki seorang profesional sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam mengembang tugasnya serta menerapkan norma-norma etis umum pada bidang-bidang khusus (profesi) dalam kehidupan manusia. Etika profesi atau kode etik profesi sangat berhubungan dengan bidang pekerjaan tertentu yang berhubungan langsung dengan masyarakat atau konsumen. Konsep etika tersebut harus disepakati bersama oleh pihak-pihak yang berada di lingkup kerja tertentu, misalnya; dokter, jurnalistik dan pers, guru, engineering (rekayasa), ilmuwan, dan profesi lainnya.
Kode etik profesi ini berperan sebagai sistem norma, nilai, dan aturan profesional secara tertulis yang dengan tegas menyatakan apa yang benar/ baik, dan apa yang tidak benar/ tidak baik bagi seorang profesional. Dengan kata lain, kode etik profesi dibuat agar seorang profesional bertindak sesuai dengan aturan dan menghindari tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi.
Etika profesi tidak bisa dipisahkan dalam keseharian pekerja saat mengemban tugas dan tanggung jawab. Khususnya dalam bidang keteknikan, karena dalam bidang keteknikan terdapat banyak hal yang tidak harus dikerjakan dengan ketelitian dan jika sampai pekerja lengah maka perusahaan akan mengalami kerugian yang besar. Sepert contoh kasus seorang operator produksi yang sedang bekerja memonitoring jalannya proses produksi harus dengan sigap mengambil keputusan bila suatu saat terjadi sesuatu. Maka dari itu, operator yang sedang bekerja tidak boleh lengah seperti asyik bermain gadget atau merokok dalam area yang bukan area merokok. Karena jika sampai operator lengah dan tidak memperhatikan monitor operasi maka dapat dipastikan jalannya produksi dapat terganggu dan itu sama sekali tidak mencerminkan etika berprofesi dalam bekerja.